Tips berkendara untuk Hadapi Pejalan Kaki

Melihat kacaunya infrastruktur jalan, pejalan kaki ‘dipaksa’ untuk berbagi jalan dengan kendaraan bermotor. Sebut saja menyeberang di sembarang tempat. Belum lagi saat trotoar jalan rusak atau ‘diinvasi’ pedagang kaki lima. Lengkap sudah penderitaan pejalan kaki.

Padahal pasal 106 Ayat (2) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan bahwa ‘Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda’. Bagaimana andai terjadi kecelakaan? Berdasarkan Pasal 284 UU itu, jika pengemudi tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau aturan Pasal 106 Ayat (2) di atas, ia dapat dipidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Berdasarkan Pasal 310 UU yang sama, dinyatakan pula jika korban luka ringan, ancamannya paling lama 1 tahun penjara dan atau denda Rp 2 juta. Kalau luka berat, paling lama penjara 5 tahun dan atau denda Rp 10 juta. Sedangkan kalau sampai meninggal, dikenai penjara paling lama 6 tahun dan atau denda Rp 12 juta.

“Apabila pengemudi sudah mengutamakan keselamatan pejalan kaki sesuai dengan Pasal 106 Ayat 2, namun karena kelalaian pejalan kaki menyebabkan terjadinya kecelakaan, seperti menyeberang di jalan bebas hambatan, maka pengemudi tidak dapat disalahkan,” urai Rosliana Ginting, SH, Director & Founder Real Driving Centre (RDC).

“Namun si pengemudi berkewajiban untuk menghentikan kendaraannya, memberikan pertolongan, dan melaporkan kecelakaan ke kepolisian terdekat,” lanjut Rosliana.

“Apabila si pengemudi tidak melakukan hal itu tanpa alasan yang patut, maka dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta berdasarkan Pasal 312 UU di atas,” lengkapnya.

Zebra cross kerap diisi kendaraan bermotor dan menyulitkan pejalan kaki untuk menyeberang Waspadai keberadaan dan pergerakan pejalan kaki Jangan pernah berasumsi terhadap gerakan pejalan kaki

Comment Form